PEMBELAJARAN ILMU SOSIAL  DI ERA GELOMBANG KE EMPAT

Muhammad Iqbal

Tulisan ini menjelaskan pengaruh gelombang ke empat atau yang dikenal dengan istilah revolusi industri 4.0 di dalam pembelajaran ilmu – ilmu sosial. Kehadiran gelombang ke empat menuntut para pembelajar ilmu – ilmu sosial untuk melakukan perubahan serta adaptif terhadap cara – cara baru pada proses pembelajaran. Pembelajaran yang dilakukan secara konvensional di ruang – ruang kelas tengah mengalami disrupsi ke arah pembelajaran yang mengutamakan kecepatan informasi dan teknologi. Bagaimana pun juga pembelajaran ilmu – ilmu sosial perlu menyeleraskan perubahan tersebut melalui pembelajaran yang inovatif berbasiskan big data (maha data), riset – riset sosial secara virtual, pembelajaran tanpa kertas (paperless) serta memungkinkan untuk menjadi pembelajar bagi dirinya (self-determined learning).

PENDAHULUAN

Akhir-akhir ini tema gelombang ke empat atau revolusi industri 4.0 menjadi tema yang menarik untuk di kaji secara akademis. Gelombang ke empat ini muncul tidak secara mendadak, melainkan adanya serangkaian gejala dan waktu yang terus bergerak. Hal ini ditandai adanya revolusi yang terjadi secara bertahap melalui gelombang pertama sampai dengan gelombang ke empat. Dengan perubahan yang dilalui memengaruhi cara – cara baru dan memaknai ulang berbagai aspek kehidupan manusia, seperti kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya dan pendidikan (Prasetyo dan Trisyanti, 2018).

Pengaruh gelombang ke empat  dalam konteks pendidikan (pembelajaran) mengubah cara pembelajaran konvesional ke pembelajaran daring. Pembelajaran ini mengandalkan kecepatan informasi dan penggunaan teknologi yang terintegrasi melalui jaringan internet (Dziuban et al., 2018). Oleh karena itu perubahan pembelajaran saat ini tanpa disadari mengubah perilaku pembelajar masa lampau yang menekankan cara pembelajaran yang konvensional, termasuk juga pembelajaran di bidang ilmu – ilmu sosial.

Pembelajar ilmu-ilmu sosial (sosiologi dan antropologi) cenderung dipersepsikan sebagai pembelajar yang kurang dekat dengan sentuhan teknologi. Hal ini disebabkan rendahnya pembelajar ilmu sosial dalam memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi (Puspitasari, 2014).

Jika dibandingkan maka pembelajar ilmu-ilmu alam senantiasa melakukan kegiatan eksperimental dalam proses pembelajaran sehingga akrab dengan seperangkat teknologi yang digunakan (Pressman, 2005). Sementara itu pembelajaran ilmu-ilmu sosial lebih mengandalkan metode pengamatan terhadap masyarakat secara langsung dan empirik (Weber, 2017).

Pembelajar ilmu – ilmu sosial perlu memanfaatkan gelombang ke empat untuk melakukan transformasi pengetahuan secara luas dan terbuka. Pembelajaran yang tidak lagi sebatas ruang – ruang kelas melainkan pembelajaran yang dilakukan di ruang-ruang virtual maupun secara self-determined learning.

Oleh karenanya pembelajar ilmu – ilmu sosial yang tidak adaptif akan mengalami hambatan/masalah di masa mendatang. Gelombang ini tentu akan selalu mendisrupsi pembelajaran – pembalajaran konvensional dan bergerak ke arah pembelajaran ilmu sosial yang lebih dinamis dan inovatif.

Gelombang Ke Empat

Secara sosiologis, masyarakat senantiasa mengalami perkembangan. Perkembangan dari masyarakat yang sederhana menuju ke perkembangan masyarakat yang kompleks (Henslin, 2006). Sebagaimana pada tahapan – tahapan yang dilalui masyarakat tersebut memiliki karakteristik tersendiri dalam menyahuti setiap perubahan yang terjadi.

Pada tahapan masyarakat tradisional memiliki cara yang khas dalam menggunakan alat – alat yang sederhana dalam kehidupan sehari – hari. Selanjutnya pada kehidupan masyarakat agraris lebih condong bercocok tanam dan menggarap tanah. Setelah di temukannya mesin – mesin pada masa industri, pekerjaan manusia mulai mengalami perubahan yakni mesin – mesin menjadi faktor penting dalam kegiatan manusia.

Penemuan mesin uap yang terjadi pada abad ke 19/20 telah melahirkan revolusi industri. Revolusi industri merupakan suatu lompatan besar dalam sejarah perkembangan masyarakat modern. Perubahan ini mengubah struktur sosial dan ekonomi. Sebagai contoh pengurangan menggunakan tenaga manusia dan munculnya kapitalisme yang merupakan sistem ekonomi yang menekankan penguasaan capital (modal) yang dimiliki segelintir orang termasuk kepemilikan atas pabrik-pabrik, mesin dan tenaga kerja (Suseno, 2016).

Perkembangan revolusi industri tersebut memberikan sederetan penemuan. Pada tahun 1946 muncul komputer. Komputer sebagai alat yang digunakan untuk mengolah data/informasi (Briggs, A., & Burke, P. 2009). Setelah ditemukan komputer, pada tahun 1969 muncul internet yang menghubungkan orang – orang melalui jaringan yang luas (Junaidi, A, 2015)

Pada tahun 2000an gelombang keempat muncul. Istilah gelombang ke empat atau revolusi industri 4.0 ini pertama kali di perkenalkan oleh Klaus Schwab – Seorang berkebangsaan Jerman sekaligus kepala eksekutif World Economic Forum (WEF). Schwab (2017) menyoroti bahwa manusia kini tengah menghadapi gelombang perubahan yang paling dasar terkait cara hidup dan kerja manusia yang menyatukan di ruang – ruang fisik dan digital.

Kehadiran gelombang keempat melahirkan serangkaian kecanggihan, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), maha data (big data), dan IoT ( Internet of Things). Digitalisasi dan kecepatan menjadi kekuatan di era ini. Sejalan dengan itu kompetisi pun akan dilakukan secara terbuka yang tidak lagi dilihat dari batasan ruang dan waktu yang mendisrupsi seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya dunia pendidikan.

Bentuk Pembelajaran Ilmu – ilmu Sosial di Era Gelombang Ke Empat

Di masa lampau, pembelajaran ilmu-ilmu alam (fisika, biologi, matematika) memiliki kecenderungan untuk menggunakan tools berupa teknologi dalam pembelajaran. Misalnya rumus-rumus matematika yang dapat dikonversikan melalui software komputer yang lebih memudahkan para pembelajar untuk memahami dan memecahkan persoalan-persoalan yang rumit.

Sementara itu pembelajaran ilmu-ilmu sosial (sosiologi, antropologi, psikologi, politik, dll) senantiasa menekankan aspek gejala yang terjadi di masyarakat secara empiris. Distingsi kedua ilmu tersebut terletak pada obyek dan metode yang digunakan.  Namun, dikotomi pembelajaran terhadap kedua ilmu tersebut pada saat ini menjadi saling melengkapi (complementer).

Berbagai perangkat (tools) yang di produksi oleh ilmu-ilmu kealaman memiliki kontribusi terhadap ilmu-ilmu sosial. Begitu juga dengan ilmu-ilmu sosial memberikan dampak terhadap pengembangan ilmu-ilmu kelaman dan bahkan menjadi kajian interdispliner tersendiri seperti, STS (Science, Technology dan Society) – Suatu disiplin ilmu interdispliner yang mengintegrasikan  beberapa kajian keilmuan di dalamnya , seperti ilmu alam, teknologi, sejarah, sosiologi, ekonomi, politik dan geografi (Krishna & D’Souza, 2004)

Monopoli Ilmu-ilmu alam atas penggunaan teknologi tengah mengalami perubahan (Sunarno, W. 2018). Ilmu-ilmu sosial perlu memanfaatkan seperangkat software dan hardware  dari teknologi untuk kepentingan pembelajaran maupun penelitian (pengolahan data hingga mengakses berbagai informasi/pengetahuan di ruang – ruang virtual).

Di era gelombang keempat ini  pengetahuan/informasi mudah diperoleh /akses melalui jaringan internet. Adanya jaringan internet turut memudahkan pembelajar untuk mengetahui peristiwa – peristiwa sosial dan politik dari belahan dunia manapun. Dengan itu semua pembelajar tidak lagi harus dibatasi ruang dan waktu. Semuanya terpaut dengan perangkat pintar (smartphone, jam tangan pintar, Ipad, tablet dan komputer jinjing).

Berbagai bentuk pembelajaran ilmu – ilmu sosial di  gelombang keempat ini adalah memanfaatkan maha data (big data), melakukan penelitian secara virtual, pembelajaran berupa paperless dan self-learning determined.

Maha Data (Big Data)

Maha data atau yang dikenal dengan big data merupakan volume besar yang tidak bisa di proses maupun dijangkau secara konvensional melainkan memerlukan seperangkat teknologi untuk menggunakanya (Dumbill, E. 2012). Derasnya arus informasi dan pengetahuan membentuk kumpulan data-data setiap waktu. Ketersediaan data-data berupa buku elektronik (ebook), jurnal online, situs – situs popular berupa teks, video, gambar, suara, dsb. Hal tersebut memberikan kemudahan bagi pembelajar untuk menghimpun informasi dan pengetahuan.

Keberadaan maha data (big data) memungkinkan untuk melacak pengetahuan di masa lampau dan saat ini. Melacak melalui jejak digital dengan menggunakan bantuan mesin pencari seperti google. Cukup memasukan kata kunci maka jutaan data – data di ruang virtual dapat diperoleh. Sebagai contoh  penelitian yang dilakukan Karamshuk et al., (2017) mengenai tanggapan emosional pengguna twitter terhadap kematian bunuh diri. Mereka memanfaatkan sosial media twitter dalam memeroleh informasi/data terkait dengan fenomena kematian bunuh diri tersebut.

Pada sisi lain ketersedian informasi yang luas tidak menjamin keakuratan suatu informasi berdasarkan fakta dan keabsahannya. Disinformasi yang di produksi  secara terus – menerus akan berdampak terhadap respon penerimaan suatu informasi. Misalnya kasus yang menghebohkan beberapa tahun lalu dimana seseorang yang bernama Tawan di Bali menciptakan tangan robotik melalui barang rongsokan. Setelah berita ini beredar maka berita tersebut mendapatkan tanggapan bahwa berita yang disajikan merupakan berita bohong.

Berdasarkan kasus tersebut, untuk melakukan validitas suatu informasi/data cukup mudah dengan memeriksa kembali kebenaran suatu data dengan mencari informasi yang terkait.  Ringkasnya, maha data tidak hanya memproduksi data – data yang memiliki keabsahan yang baik namun juga sebaliknya (meragukan).

Lebih lanjut maha data tidak jarang untuk di salah gunakan untuk praktik – praktik tidak terpuji, seperti seperti melakukan plagiarisme yang kerap terjadi di dunia akademis (Tresnawati, Syaichu R dan Kuspriyanto, 2012) dan penyebaran berita Hoax yang dilakukan secara sistematis dan masif yang berdampak terhadap disintegrasi bangsa (Arif, 2016).

Oleh karenanya pemanfaatan maha data dalam pembelajaran ilmu – ilmu sosial tidak hanya sebagai sumber pengetahuan yang ilmiah namun juga berperan sebagai counter terhadap pengetahuan – pengetahuan/informasi lain yang validitasnya masih diragukan.

Riset sosial secara virtual

Pada umumnya riset – riset yang dilakukan dalam ilmu – ilmu sosial berupa riset lapangan yang mengamati permasalahan yang terjadi di masyarakat. Di era gelombang ke empat ini, riset tidak hanya saja menggunakan realitas sosial (fisik) namun kini menjadi riset yang menarik untuk menangkap berbagai gejala di ruang virtual.

Sebagai contoh riset virtual dalam ilmu Antropologi atau yang dikenal dengan etnografi virtual. Etnografi virtual merupakah metode etnografi yang dilakukan untuk melihat fenomena sosial dan kultur pengguna di ruang siber (Nasrullah, 2017). Tidak seperti melakukan etnografi pada umumnya, para etnografer tersebut menyelidiki dan mengamati secara mendalam melalui dunia maya maupun sosial media.

Selain itu beberapa contoh riset yang menggunakan pendekatan etnografi virtual, yaitu Pertama, penelitian yang dilakukan Steinmetz (2012)berjudul Message Received: Virtual Ethnography in Online Message Boards.  Kedua, penelitian yang dilakukan Nugraha, Sudrajat dan Putri, (2015)berjudul Fenomena Meme di Media Sosial : Studi Etnografi Virtual Posting Meme Pada Pengguna Media Sosial Instagram.  Ketiga, penelitian Nasrullah (2018) yang berjudul Riset Khalayak Digital : Perspektif Khalayak Media Sosial dan Realitas Virtual di Media Sosial.

Beberapa penelitian yang telah dikemukakan bahwa riset – riset virtual  sejalan dengan fenomena gelombang ke empat yang menekankan aspek ruang virtual. Bagaimanapun juga bentuk – bentuk riset virtual perlahan memberikan pengaruh terhadap riset – riset yang umum dilakukan.

Pembelajaran berupa Papperless

Pembelajaran secara konvensional sangat membutuhkan kertas kerja fisik sebagai media. Kertas sejak lama sudah digunakan. Kehadiran gelombang ke empat ini aspek kertas pun berubah menjadi lembar kerja yang berubah bentuk kedalam digitalisasi (paperless). Meminimalkan penggunaan kertas bahkan tanpa menggunakan sama sekali sangat memungkinkan di era ini. Mengirim dan menerima tugas – tugas pun  cukup dengan pranala.

Bentuk lembar kerja yang bisa digunakan dalam pembelajaran ilmu – ilmu sosial pernah dilakukan oleh Iqbal et al., (2018) yakni dengan memanfaatkan aplikasi seperti google forms dengan berbagai konten, seperti teks, gambar dan audio-visual (video). Selain itu lembar kerja ini cukup efektif, efisien dan tidak memerlukan tempat penyimpanan secara fisik.

Screen Shot 2018-08-30 at 20.09.44

Gambar 1. Contoh Model lembar kerja interaktif tanpa kertas

Self-Determined Learning

Setiap pembelajar di era ini dengan bebas mengekpresikan gagasan/ide serta temuanya. Teknologi dan informasi membantu pembelajar sosial untuk mengeksplorasi pembelajaran. Pembelajar di mungkinkan untuk melakukan proses pembelajaran secara mandiri. Hal ini tentu semakin mumudahkan pembelajar untuk melakukan pembelajaran secara personal maupun kolaborasi.

Pembelajar secara personal berkaitan dengan belajar yang dilakukan secara mandiri dengan mengakses konten – konten pembelajaran yang di inginkan (Blaschke, L. M, 2012). Salah satu contohnya adalah menggunakan media pembelajaran Youtube. Youtube merupakan salah satu platform video yang secara luas dapat digunakan dan berbagai konten yang dimilikinya. Kuliah umum Anthony Giddens (seorang sosiolog Inggris) dengan mudah untuk di akses. Pembelajar cukup hanya membuka aplikasi tersebut dengan memasukan kata kunci yang dicari. Selain itu pembelajar juga dapat mengunduh berbagai konten pembelajaran secara teks, audio-visual, buku – buku, jurnal, dll melalui penyedia yang berbayar maupun tidak berbayar. Pemanfaatan sosial media seperti Facebook dan Twitter bisa menjadi media pembelajaran secara personal.

Pembelajar kolaborasi merupakan proses pembelajaran yang dilakukan dengan cara kerja sama (antarpembelajar). Disini pembelajar memungkinkan untuk melakukan kegiatan – kegiatan akademik secara bersama. Seperti melakukan penelitian bersama antar universitas dan jurusan yang tidak sebidang. Kemudahan dalam kolaborasi turut mempecepat produksi pengetahuan. Pembelajar cukup terhubung dengan jejaring yang luas di ruang maya dengan bergabung di komunitas – komunitas ilmiah, seperti researchgate. Dengan perjumpaan antarpembelajar maka kolaborasi dengan mudah untuk direalisasikan tanpa sekat dan batasan – batasan territorial.

Tantangan bagi Pembelajar 

Tantangan pembelajar Ilmu sosial adalah manakala proses adaptif terhadap perubahan tidak dilakukan. Setiap perubahan memunculkan paradoks. Pada satu sisi memberikan peluang dan bagian yang lain  memberikan tantangan.  Peluang bagi pembelajar di era ini adalah proses pembelajaran yang tidak lagi menekankan pembelajaran konvensional melainkan pembelajaran yang dapat memanfaatkan teknologi dan informasi. Sementara itu tantangan bagi pembelajar adalah bila tidak melakukan adaptasi terhadap perubahan tersebut.

Disamping itu pembelajar seperti guru/dosen tidak lagi memonopoli pengetahuan di ruang – ruang kelas.  Sejalan dengan buku yang ditulis Nichols (2017) yang berjudul Death of Expertise. Di dalam buku tersebut mencoba menjelaskan perubahan dunia saat ini yang menggerus dan mematikan kepakaran seseorang. Hal ini berkaitan dengan ketersedian akses informasi dan pengetahuan yang berlimpah-ruah di jagat maya yang memungkinkan setiap orang untuk menjadi “ahli” dengan  pengetahuan yang dimilikinya.

Lebih lanjut perlunya kurikulum yang memiliki orientasi baru yang bukan sekedar membaca dan menulis namun perlu menekankan kepada kemampuan literasi digital (menggunakan informasi di dunia digital, literasi teknologi, dan literasi manusia (humanities, komunikasi dan disain). Ketiga aspek itu menjadi fokus terhadap perubahan orientasi kurikulum yang baru.

Pembelajar ilmu sosial perlu memahami serangkaian kode-kode virtual. Kode-kode yang dimaksud adalah seperangkat identitas virtual yang memungkinkan untuk melalukan koneksi tanpa batas. Sebagai contoh memiliki email, akun pembelajaran (untuk mengakses berbagai jurnal-jurnal ilmiah) serta memiliki komunitas yang senantiasa terhubung (sosial media). Hal tersebut berguna untuk menautkan ruang, waktu dan pengetahuan bagi pembelajar.

Dengan demikian tantangan pembelajar ilmu sosial di era gelombang keempat ini adalah seberapa besar kemampuan pembelajar untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan yang terjadi.

KESIMPULAN

Sebagai penutup pada tulisan ini bahwa gelombang ke empat mengubah wajah dan praktik pembelajaran ilmu-ilmu sosial. Pembelajaran ilmu-ilmu sosial tidak lagi dimaknai sebatas pembelajaran yang dilakukan di ruang – ruang fisik (real) namun  perlu menyatukan pada ruang – ruang digital yang mengedepankan teknologi dan informasi sebagai medium untuk transformasi dan produksi pengetahuan sosial.

Referensi

Arif, R. (2016) ‘Internet as a Hope or a Hoax for Emerging Democracies: Revisiting the Concept of Citizenship in the Digital Age’, Procedia – Social and Behavioral Sciences. The Author(s), 236(December 2015), pp. 4–8. doi: 10.1016/j.sbspro.2016.12.002.
Briggs, A., & Burke, P. (2009). A social history of the media: From Gutenberg to the Internet. Polity.
Blaschke, L. M. (2012). Heutagogy and lifelong learning: A review of heutagogical practice and self-determined learning. The International Review of Research in Open and Distributed Learning13(1), 56-71.
Dumbill, E. (2012). What is big data? An introduction to the big data landscape. oreilly. com, http://radar. oreilly. com/2012/01/what-is-big-data. html.
Dziuban, C. et al.(2018) ‘Blended learning: the new normal and emerging technologies’, International Journal of Educational Technology in Higher Education. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 15(1), pp. 1–16. doi: 10.1186/s41239-017-0087-5.
Henslin, J. M. (2006). Sosiologi dengan pendekatan membumi. Jakarta: Erlangga.
Iqbal, M. et al.(2018) ‘Using Google form for student worksheet as learning media’, International Journal of Engineering and Technology(UAE), 7(3.4 Special Issue  4).
Junaidi, A. (2015). Internet of Things, Sejarah, Teknologi dan Penerapannya. Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Terapan1(3).
Karamshuk, D. et al.(2017) ‘Bridging big data and qualitative methods in the social sciences: A case study of Twitter responses to high profile deaths by suicide’, Online Social Networks and Media. Elsevier B.V., 1, pp. 33–43. doi: 10.1016/j.osnem.2017.01.002.
Krishna, V. V and D’Souza, R. (2004) ‘Science, Technology and Society Studies Research Workshop’, Science, Technology and Society. Sage Publications Sage CA: Thousand Oaks, CA, 9(2), pp. 319–325.
Nasrullah, R. (2017) ‘Etnografi virtual: riset komunikasi, budaya dan sosioteknologi di internet’, Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Nasrullah, R. (2018). Riset Khalayak Digital: Perspektif Khalayak Media dan Realitas Virtual di Media Sosial. Jurnal Sosioteknologi17(2), 271-287.
Nichols, T. M. (2017). The death of expertise. Tantor Media, Incorporated.
Nugraha, A., Sudrajat, R. and Putri, B. (2015) ‘Fenomena Meme Di Media Sosial: Studi Etnografi Virtual Posting Meme Pada Pengguna Media Sosial Instagram’, Sosioteknologi, 14, pp. 237–245. doi: 10.1016/S0953-7562(96)80023-2.
Prasetyo, B. and Trisyanti, U. (2018) ‘Revolusi Industri 4.0 Dan Tantangan Perubahan Sosial’, IPTEK Journal of Proceedings Series, (5), pp. 22–27.
Pressman, R. S. (2005) Software engineering: a practitioner’s approach. Palgrave Macmillan.
Puspitasari, E. (2014) ‘Inovasi pembelajaran ilmu pengetahuan sosial’, Jurnal Edueksos, III(1), pp. 25–40.
Schwab, K. (2017). The fourth industrial revolution. Crown Business Press.
Suseno, F. M. (2016). Pemikiran Karl Marx. Gramedia Pustaka Utama.
Steinmetz, K. F. (2012) ‘Message received: Virtual ethnography in online message boards’, International Journal of Qualitative Methods, 11(1), pp. 26–39. doi: 10.1177/160940691201100103.
Tresnawati, D., Syaichu R, A. and Kuspriyanto (2012) ‘Plagiarism Detection System Design for Programming Assignment in Virtual Classroom based on Moodle’,Procedia – Social and Behavioral Sciences. Elsevier B.V., 67(November 2011), pp. 114–122. doi: 10.1016/j.sbspro.2012.11.312.
Sunarno, W. (2018,). Pembelajaran IPA di Era Revolusi Industri 4.0. In Prosiding SNPF (Seminar Nasional Pendidikan Fisika).
Weber, M. (2017) Methodology of social sciences. Routledge.

*****

KELAS SOSIAL DALAM PANDANGAN SARTRE

Muhammad Iqbal

Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan bahwa manusia dalam pandangan Sartre memiliki ‘kesadaran’ untuk memilih kehidupanya. Status Sosial ‘Kaya’ dan ‘Miskin’ merupakan Simbol-simbol yang sering dilekatkan bagi suatu Individu/Kelompok. Oleh karena itu, Eksistensialisme Sartre akan menganalisa mengapa manusia dalam dunia realitasnya tidak memiliki pilihan-pilihan kelas secara bebas.

Pilihan Antara Kaya dan Miskin

Dalam pandangan Marx, setiap perjuangan manusia adalah Perjuangan Kelas. Perjuangan kelas diartikan sebagai pertentangan terhadap kaum Borjuis (Pemilik modal) dan kaum proletar (Buruh/pekerja) secara ekonomis.

Selain itu, pertentangan-pertentangan  tersebut menciptakan konflik. Konflik yang berkepanjangan yang memiliki implikasi terhadap struktur sosial dan perubahan. Jika kita merujuk pada pandangan Marx tentang Kelas dapat dijelaskan kelas-kelas pemilik modal (Kaya) dan Kelas Buruh (Miskin) dinyatakan sebagai kedua kelas yang tidak memberikan ‘Ruang’ yang bebas terhadap penentuaan basis struktur masyarakat (Suseno, 1999).

Dalam konteks Modern, kita dapat mengamati relevansi teori kelas Marx. Misalnya, bagaimana sebuah seseorang/kelompok yang memimiliki kelas sosial pada tingkatan atas, sebut saja para Politisi dan Pengusaha. Keduanya memiliki pengaruh terhadap “kekuasaan’ dan ‘Uang’ sehingga tentunnya sangat mudah untuk ‘menindas’ struktur kelas bawah, Kelas bawah dapat dicontohkan seperti, Buruh, penarik becak,Pedagang kaki lima dsb.

Eksistensialisme Sartre

Pandangan Sartre terhadap ‘Manusia’ menekankan pada aspek peniadaan teori umum yang berlaku terhadap manusia itu sendiri. Bagi satre, manusia diciptakan dan terjadi dengan sendirinya (Stevenson, 1974). Oleh karena itu ia berpendapat manusia ‘terpaksa’ untuk mengambil pilihan – pilihan dan keputusan dalam kehidupan ini. Sehingga, nilai-nilai obyektif tidak berlaku bagi manusia dan pada dasarnya manusia ditentukan oleh subyektifitas (kebebasan).

Selanjutnya, Sartre membagi obyek manusia menjadi ‘obyek kesadaran’ dan ‘obyek ketidaksadaran’. Bagi satre sendiri, kesadaran manusia sebagai hal yang membedakan diri dari obyeknya. Dengan demikian, satre menegaskan kembali bahwa ‘sadar’ sebagai ‘penunjukan’ terhadap sesuatu yang ‘bukan’. Dengan demikian. bagian terpenting manusia, bagi sartre adalah untuk membentuk antara kesadaran dan kebebasan manusia itu sendiri.

Analisa Sartre terhadap Kelas ‘Kaya’ dan ‘Miskin’

Berdasarkan penjelasan diawal, Kelas sosial ditentukan oleh kelas-kelas dalam mayarakat yang dilihat dari ekonomi. Jika kita menganalisa pandangan Sartre bahwa sudah seharusnya manusia tidak ditentukan oleh determinisme ekonomi. Bagi Sartre, untuk  menentukan pilihan ‘kelas’ dalam masyarakat justru ditandai dengan ‘kebebasan’ secara ‘sadar’ untuk menentukan pilihan-pilihannya.

Oleh karena itu, sadar sebagai sebagai ‘eksistensi’  manusia dalam membentuk atau menjadi ‘sesuatu’ apa yang diinginkan. Konteks kelas sosial, Satre berbeda dengan Marx. Bagi Marx kelas sosial muncul dikarenakan sebagai ‘deteminasi ekonomi’ (Ritzer & Goodman, 2004).

Lebih lanjut Sartre melihat Kelas sosial tidak diciptakan melalui Ekonomi melainkan kesadaran manusia itu sendiri dalam ‘kebebasan’ menentukan kelas. Misalnya, seseorang yang tidak memiliki modal secara ekonomi bukan berarti orang tersebut memiliki kelas sosial yang rendah. Namun, pandangan satre melihat kelas dalam masyrakat ditentukan oleh seberapa besar sesorang dalam ‘sadar’ untuk memiliki ‘otonomi’ dalam kehidupannya tanpa intervensi siapapun.

Singkatnya, produksi ekonomi terhadap pemilikian individu itu tidak terjadi melainkan sebuah sadar untuk menjadi kesadaran itu sendiri. Oleh karena itu, satre melihat kelas sosial sebagai penciptaan kelas-kelas dalam masyrakat yang dilakukan secara ‘sadar’ atau ‘tidak sadar’.

Kembali pada penjelasan Kelas ‘Kaya’ dan ‘Miskin’ di masyarakat kita. ‘kaya’ dikonsepsikan bagi masyraakat kita kepada kelas yang memiliki kekuasaan dan uang. Selanjutnya memiliki simbol-simbol tertentu yang dijadikan ukuran dan diterima oleh masyarakat. sedangkan ‘miskin’ diterjemahkan sebagai kelas sosial yang terendah dengan menggunakan simbol-simbol tertentu yang menjadikan sesorang berada pada kelas ‘Miskin’.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa analisa satre dalam kelasa sosial lebih menekankan kepada “Kesadara’ dan ‘otonomi’ individu dalam melakukan pilihan-pilihanya berdasarkan kategori sosial yang diberikan masyarakat. Sartre sendiri juga menegaskan, ‘materi’ tidak dapat dipandang sebagai penentuan kelas, namun baginya adalah orang yang miliki kesadaran dan kebebasan dalam menentukan kelas sosial secara arti, makna, dan kebebasan manusia itu sendiri.

KESIMPULAN

Kelas Sosial dalam masyarakat tidak dikategorikan secara sosial terhadap ‘kepemilikan’ secara ekonomi belaka, namun bagi Satre, Kelas Sosial, lebih ditentukan dari bagaimana sikap untuk ‘sadar’ dan ‘bebas’ bagi manusia dalam menentukan pilihan-pilihanya tanpa campur tangan oleh siapapun. ‘Determinisme Ekonomi’ tidak bisa dijadikan sebagai ukuran kelas sosial. Manusia harus sadar dan bebas dari kungkungan materialisme itu sendiri.

Bahan Bacaan 

Ritzer, G & Goodman, Douglas J, 2004. Teori Sosiologi Modern, Jakarta.  Prenada Media

Suseno, Franz Magnis. 1999. Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke Perselishan Revisonisme. Jakrta. PT. Gramedia

Stevenson, Leslie. 1974. Tujuh Teori Tentang Sifat Manusia (diterjamahkan oleh Rustam A. Sani). Pustaka Cipta Sdn Bhd, Malaysia

*****

HERBERT SPENCER DAN PEMIKIRANYA

Muhammad Iqbal

Tulisan ini merupakan ringkasan dari buku Master of Sociological Thought karangan Lewis Coser, khususnya pada bagian yang menjelaskan kehidupan dan pemikiran Herbert Spencer (hal 89-127 ). Pada tulisan ini menekankan Herbert Spencer sebagi salah seorang yang berpandangan evolusionis dan memiliki pengaruh dalam permulaan dan perkembangan Sosiologi.

Siapa Herbert Spencer?

Herbert Spencer, seorang berkebangsaan Inggris, lahir di Derby 27 April 1820. Pada awalnya ia bekerja sebagai insinyur sipil jalan kereta api dan kemudian spencer lebih banyak memusatkan perhatian pada bidang menulis. Gagasan-gagasan spencer mulai diperhitungkan ketika ia banyak menulis dan dimuat pada majalah The Economist– salah satu majalah ekonomi yang bergengsi di london. Spencer banyak menulis pada bidang ilmu pengetahuan sosial khususnya sosiologi.

Pada usia 30 tahun, Spencer menerbitkan buku pertama berjudul Social Statics. Dalam proses penulisannya, spencer mengalami kesulitan untuk tidur (Insomnia) hingga beberpa tahun. Hal tersebut mengakibatkan spencer memiliki masalah mental dan fisik.

Yang menarik dan keunikan tersendiri dalam kehidupan intelektual spencer adalah keengganannya membaca buku orang lain. Spencer memiliki alasan karena ia telah menjadi pemikir sepanjang hidupnya, bukan sebagai pembaca. Ia juga menolak pemikiran lain bilamana tidak sesuai dengan pemikirannya. Tepatnya pada 8 Desember 1903 Spencer meninggal.

Evolusi Sosial

Salah satu pemikiran liberal spencer adalah konservatisme. Ia menerima doktrin laissez-faire. Menurut spencer, negara tak berhak mencampuri persoalan individual kecuali dalam fungsi yang agak pasif. Ia juga berkeyakinan bahwa kehidupan sosial  berkembang dan bebas dari kontrol luar.

Selanjutnya, spencer menganut pandangan evolusi. Evolusi sosial yang ia maksud bahwa kehidupan masyrakat layaknya tumbuh dan berkembang secara progresif menuju keadaan yang semakin baik tanpa harus ada campur tangan.

Survival of the fittest’ adalah ungkapan yang mendominasi pemikiran Charles darwin dalam menjelaskan seleksi alamiah , namun sebenarnya, Spencerlah orang yang pertama kali menciptakan ungkapan tersebut sebelum karya Dawin muncul. Bagi Spencer, Survival of the fittest, juga terjadi dalam kehidupan sosial. spencer menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial jika tidak diganggu (intervensi) dari luar, maka individu dapat berkembang dan bertahan hidup, sedangkan individu yang tidak mampu beradaptasi maka ia akan punah.

Spencer juga melihat kecenderungan masyrakat sebagai organism-biology. Ia memfokuskan kepada struktur masyrakat secara menyeluruh, antarhubungan bagian-bagian masyrakat dan keterkaitan fungsinya. Spencer juga menolak dan menentang hukum tiga tahap comte. Bagi spencer, perkembangan sejarah manusia comte hanya didasari oleh dunia ide (gagasan), sebalinya spencer membangun teori evolusi dalam dunia materi (nyata).

Dalam teori evolusi ala spencer, masyarakat dijelaskan sebagai masyarakat yang tumbuh melalui perkembangan individu dan penyatuan kelompok-kelompok atau compounding. Dengan peningkatn ukuran masyarakat menyebabkan strukturnnya makin luas dan terdiferensiasi. Selanjutnya, masyarakat senantiasa mengalami perubahan dan penggabungan. Dengan demikian spencer melihat masyarakat berveolusi dari yang sederhana (doubly-compund) menuju ke kompleks (trebly-compound)

Masyarakat Militan – Masyarakat Industri

Evolusi dalam masyarakat yang diamati spencer adalah masyarakat militan menuju masyarakat industri. Masyarakat militan bagi spencer merupakan masyarakat yang dicirikan masyarakat yang berada pada kondisi perang. Masyarakat tersebut bersifat menyerang dan bertahan. Menurut spencer, perang merupakan salah satu bentuk mengintegrasikan/menyatukan masyarakat dan juga sebagai cikal bakal dalam pemebentukan masyrakat industri. Namun, ketika masyrakat industri hadir maka masyarakat militan bagi spencer sudah tidak fungsional dan menghambat evolusi.

Selanjutnya, masyakarat Industri merupakan masyarakat yang kompleks dan terspesialisasi. Bagi spencer, tipe masyarakat industri dicirikan sebagai masyarakat yang tidak menyukai perang, adanya pembagian kerja,heterogen, bebas, dan kerjasama. Selain itu, masyarakat industri memiliki karakter masyarakat yang cakap dan bergairah dalam beradaptasi. Ini sesuaui dengan apa yang dikatakan spencer sebagai  siapa masyarakat yang mampu bertahan maka ia berhasil dalam kehidupan, sebaliknya masyrakat yang kurang mampu bertahan maka masyrakat tersebut akan menghdapi ajalnya.

Dengan demikian, spencer berkeyakinan bahwa evolusi umum pasti terjadi, ini dicontohkan seperti dari masyarakat militan menuju ke masyarakat Industri.

Penutup

Herbert Spencer merupakan salah satu tokoh sosiologi yang telah memberikan pengaruh pada masa awal-awal sosiologi dengan evolusi sosialnya. Spencer juga mengintegrasikan ilmu biologi (organism) dalam menganologikan sebuah masyrakat dalam ilmu sosiologi. Spencer berpendapat, masyarakat yang mampu beradaptasi yang akan bertahan, sebaliknya masyarakat yang tidak mampu bertahan maka akan segera musnah.

*****

PENDIDIKAN DAN REKAYASA SOSIAL

Muhammad Iqbal

Pendahuluan

Pendidikan sebagai kegiatan mendidik telah dilakukan berabad-abad lamanya di masyarakat. Bahkan kegiatan mendidik ini diyakini telah berlangsung sejak manusia ada dalam rangka mengenal diri sendiri dan lingkunganya demi kemajuan peradaban manusia. Tanpa manusia tentunya pendidikan tidak pernah ada karena pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam rangka menciptakan manusia yang unggul, berwawasan, dan berkarakter. Oleh karena itu pendidikan dapat dikatakan sebagai hal yang fundamental, universal, dan fenomenal.

Institusi pendidikan memiliki peranan sebagai agen perubahan sosial. pendidikan dalam masyarakat berfungsi sebagai upaya memanusiakan manusia dalam konteks kedewasaan dan kebijaksanaan. Pendidikan juga diharapkan menciptakan masyarakat yang didasari oleh pengetahuan dan nilai-nilai moral, sehingga setiap masyarakat dapat berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Isu-isu pendidikan selalu menjadi isu yang terpenting dalam aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Aspek-aspek tersebut memiliki korelasi dengan Institusi pendidikan. Salah satu contoh, ketika suatu negara  tingkat pendidikannya rendah maka akan memengaruhi produktivitas, inovasi, dan ketersediaan sumber daya manusia.

Persoalan pendidikan juga memiliki dampak sosial yang berarti, seperti, beberapa waktu lalu kita dikejutkan oleh tawuran yang dilakukan antarpelajar pada siswa SMA 6 dan SMA 70 di Jakarta dan tawuran antarmahasiswa pada mahasiwa Fakultas Teknik dan mahasiwa Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Makasar. Hal tersebut menandakan sistem pendidikan kita mengalami kronis akibat mengabaikan toleransi, gejolak yang berlebihan, serta menghilangkan nilai-nilai dan norma yang berlaku. Semua ini tentunya akan menjadi persoalan terhadap kohesi sosial masyarakat kita.

Dengan demikian melalui tulisan ini hendak memfokuskan  relasi pendidikan dengan rekayasa sosial dalam  mempersiapkan masyarakat yang tidak hanya sekedar memiliki pengetahauan, namun lebih daripada itu, yaitu membentuk karakter masyarakat.

Pendidikan Sebagai Agen Sosialiasi

Institusi pendidikan seperti sekolah merupakan salah satu agen sosialisasi. Merujuk Zanden (Damsar 2011: 66) menjelaskan sosialisasi sebagai proses interaksi sosial dengan mana orang memperoleh pengetahuan, sikap, nilai, dan perilaku esensial  untuk partisipasi efektif dalam masyarakat. Sementara itu pandangan White (Damsar 2011: 66) menjelaskan sosialisasi sebagai proses belajar peran, status, dan nilai yang diperlukan masyarakat untuk berpartisipasi di dalam institusi sosial. dari kedua pandangan tersebut dapat dinyatakan Sosialisasi sebagai proses dimana seseorang belajar untuk memperoleh pengetahuan, sikap, karakter dalam mengikutsertakan diri pada institusi sosial. Hal ini dipertegas Fuller dan Jacobs (Sunarto 2004: 26) dengan mengidentifikasikan empat agen sosiaiasi utama, yakni; keluarga, kelompok bermain, media massa, dan Sekolah.

Bentuk sosialisasi dapat direncanakan. Sosialisasi yang direncankan merupakan sosialisasi yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Sosialisasi ini dapat dilihat di pendidikan formal seperti, Sekolah dan Universitas. Sosialisasi ini bertujuan sebagai perencanaan semua tujuan pembelajaran, materi, proses, dan penilaian yang telah dikonstruksi secara matang, sehingga semua terukur dan dapat dievaluasi.

Seperti yang telah dijelaskan, sekolah sebagai institusi pendidikan memiki dasar dalam pembentukan masyarakat. Sekolah mensosialisasikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat sehingga dianggap sebagai ‘miniatur’ kehidupan sosial.

Jika dikaitkan dengan permasalahan yang telah disebutkan, bahwa sekolah memiliki peranan penting dalam menciptakan keharmonisasian, integrasi, dan kohesi sosial, tentunya dengan sosialisasi yang sempurna, namun dalam mewujudkan itu semua diperlukan sebuah model atau treatmenyang tepat dalam mengatasi persoalan-persoalan sosial yang berawal dari lingkungan sekolah.

Rekayasa Sosial

Dalam konteks Sosial istilah rekayasa sosial (social engineering) dipahami sebagai proses perancangan kondisi sosial yang diinginkan. Munculnya rekayasa sosial dalam konteks sosial adalah karena tidak adanya kesesuaian faktual yang diharapkan dengan kondisi sebenarnya (Rakhmat, 1999). Sehingga, diperlukan sebuah perancangan yang matang dan sistematis agar kondisi-kondisi sosial sesuai yang diharapkan.

Dengan kata lain, rekayasa sosial merupakan bagian dari aktifitas perubahan sosial itu sendiri. Namun di sisi lain, perancangan sosial bukanlah sesuatu yang harus berbenturan dengan kondisi-kondisi lain. Melainkan, upaya mendisain masyarakat dalam waktu jangka panjang.  Dalam konteks lain, sedikit berbeda dari apa yang disampaikan oleh Jalaluddin Rahmat, rekayasa sosial menurutnya sebagai persiapan untuk pembentukan aktivitas revolusi maupun reformasi dalam penekanan aspek politis-sosiologis masyarakat.

Bagi penulis, Rekayasa sosial tidak lebih hanya sebuah perencanaan kondisi sosial yang diharapkan dalam rangka perubahan perilaku individu dan situasi sosial melalui pendidikan formal.

Dalam pendidikan di Indonesia, rekayasa sosial sangat diperlukan. Hal ini mengingat kompleksitas masalah-masalah sosial yang terjadi dan bermula dari isntitusi pendidikan (sekolah), seperti praktik tawuran, gengmotor, pergaulan bebas, dsb. salah satu sebab adalah dunia pendidikan saat ini hanya mengedepankan aspek kognitif dan kerekatan sosial yang rendah. Untuk mengatasi itu semua diperlukan sebuah model sekolah yang sangat representatif.

Model Sekolah Pembauran

Sekolah pembauran merupakan salah satu Institusi pendidikan formal. Namun, sekolah ini  memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari sekolah-sekolah formal pada umumnya di Indonesia. Sepengetahuan penulis, sekolah pembauruan hanya satu-satunya di Indonesia. Sekolah ini bernama Sekolah Iskandar Muda (SIM) yang memiliki tingkatan Playgrup – SMA/SMK. Selanjutnya,  Keragaman  SIM tidak hanya sebatas siswa-siswanya/ guru-guru namun lebih daripada itu aspek simbol agama seperti rumah ibadah (mesjid,gereja, vihara) menjadi warna-warni keharmonisasian di sekolah.

Secara historis SIM digagas dan didirikan tahun 1987 oleh dr. Sofyan Tan. Ia merupakan seorang keturunan tionghoa Medan. Pendirian SIM tidak terlepas pada situasi sosial-politik pada tahun 1965. Pada saat itu, Sofyan Tan memiliki kenangan buruk terhadap pembedaan kelas sosial antara pribumi dan non pribumi dan sangat berkaitan dengan G 30 S. Kelas non pribumi kerap dijadikan obyek kekerasan dan acaman bagi penguasa . Bagi Tan, orang-orang tiongha sering mendapatkan streotipe, seperti ‘kikir’ , ekslusif, tidak nasionalisme dan sangat tertutup. Berdasarkan hal-hal tersebut Sofyan Tan mendirikan sebuah sekolah yang memiliki tujuan menginterasikan dari berbagai macam latarbelakang  status sosial-ekonomi, etnis, dan agama.

Sebagai sekolah pembauran, SIM merupakan sekolah yang ideal dalam merancang perencanaan kondisi sosial (rekayasa sosial). Tidak seperti pada sekolah umumnya, SIM membuka dan menerima bagi siapa saja siswa-siswa yang memiliki latar belakang sosial-ekonomi, etnis, dan agama yang berbeda dan kondisi ini sangat hetorogen. Bahkan penulis sangat kagum terhadap keragaman, kemajemukan, serta toleransi yang diciptakan SIM. SIM adalah sekolah pembauran yang tidak komersial namun lebih menekankan aspek pembentukan karakter masyarakat Indonesia yang sesungguhnya.

Oleh karena itu keberadaan SIM dapat dijadikan sebagai sebuah model  bagi sekolah-sekolah formal pada umumnya. Bagaimanapun juga, SIM telah  berupaya melakukan rekayasa sosial melalui institusi pendidikannya untuk menciptakan masa depan masyarakat yang lebih baik.

Kesimpulan

Sebagai penutup dan sekaligus kesimpulan pada tulisan ini, Penulis berpendapat perlunya rekayasa sosial dalam dunia pendidikan. Perubahan perilaku dan kondisi sosial tidak selamanya harus berbenturan, melainkan dapat dijembatani dengan evaluasi dan proyeksi sosial. Rekayasa sosial diharapkan dapat menciptakan masa depan masyarakat yang lebih integratif dan toleran di tengah masyarakat yang beragam (plural).

Bahan Bacaan

Damsar, 2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan, Kencana, Jakarta

Rohaman, Arif. 2009. Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan. LaksBang Mediatama, Yogyakarta

Rakmat, Jalaluddin. 1999. Rekayasa Sosial, Reformasi atau Revolusi?. Rosdakarya.Bandung

Sunarto, Kamanto, 2004. Pengantar Sosiologi. FEUI, Jakarta

 *****

           

 Hoax di Sekitar Kita  :  Sebuah Catatan Pendek

Muhammad Iqbal

Akhir-akhir ini fenomena Hoax (berita bohong) menjangkiti masyarakat Indonesia. Berita bohong tersebut dengan sengaja diciptakan dan disebarluaskan dengan tujuan untuk menyamarkan kebenaran suatu berita/informasi (fake news). Keraguan terhadap keabsahan berita/informasi tersebut memberikan dampak terhadap terganggunya keharmonisasian masyarakat.

Masyarakat tengah mengalami kedangkalan dalam menerima informasi yang tidak jelas sumber maupun kebenarannya. Sebagai contoh, menjelang dan paska pilkada DKI (1/2) yang lalu, Hoax digunakan untuk menyerang, mencaci-maki maupun membunuh karakter setiap pasangan calon  yang dilakukan melalui FB, Twitter, WA, SMS dsb. Padahal, validitas berita/informasinya belum tentu sepenuhnya benar dan diragukan. Hal ini menyebabkan tumbuhnya sikap kebencian, terror dan kegelisahan di tengah masyarakat.

Tanpa disadari Hoax menjadi  bagian masalah yang krusial . Akal sehat masyarakat perlahan tergerus kepada hal-hal yang berkaitan dengan Hoax. Ironinya, kalangan intelektual pun terjangkiti virus Hoax tersebut. Hal ini menunjukan Hoax memiliki kekuatan destruktif dalam memengaruhi cara pandang dan sikap bagi setiap kelompok-kelompok masyarakat, termasuk para kaum intelektual.

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, sebut saja cyber army yang dibentuk pemerintah beberapa waktu lalu dan komunitas-komunitas anti Hoax lainya, nampaknya Hoax masih tetap eksis di kanal-kanal media.

Dengan demikian hoax akan menjadi senjata bagi kelompok-kelompok kepentingan yang secara sengaja ingin melemahkan kerekatan sosial kita.

*****

 

PANDANGAN BEBERAPA TOKOH TERHADAP KELOMPOK TERPILIH (ELITE)

Muhammad Iqbal

Tulisan ini merupakan ringkasan buku berujudul Penguasa dan Kelompok Elit (1984) karangan Suzanne Keller. Secara umum isi buku tersebut  menjelaskan konsep Kelompok terpilih (elite) dari beberapa pemikiran tokoh.

Golongan Elite

Elit dapat dipahami sebagai studi yang menarik dalam menggabungkan para pemikiran dari pelbagai disiplin ilmu. Dalam tulisan ini akan menjelaskan masalah umum tentang hubungan antara golongan elit dengan masyarakat. Pada bagian pertama, golongan utama atau yang disebut dengan elit politik (Aristoteles,Pareto, dan Mosca). Pada bagian kedua, kaum elit yang berkoeksistensi berbagai kekuasaan, tanggung jawab, serta hak-hak ( Saint Simon, Karl Manheim dan Raymond Arond).

Aristoteles

Aristoteles sebagai seorang Filsuf, memberikan gambaran terhadap sifat dan tujuan negara dan manusia yang dipilih dalam bertugas. Bagi Aristoteles, negara memiliki fungsi untuk mencegah kejahatan.

Selain itu, negara sebagai alat yang dirancang sebagai  pemenuhan tujuan secara kolektif dan melayani kebutuhan bersama. Oleh karena itu dalam memenuhinya diperlukan ‘manusia-manusia luar biasa’ yang didasari oleh prioritas kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Dalam hal memimpin suatu negara, Aristoteles menekankan kepada pemimpin-pemimpin bukan hanya elit politis belaka namun  pada semua tindakan dan usaha pemimpin yang berorientasi untuk mengamankan dan memajukan kepentingan-kepentingan masyakarat.

Dengan demikian suatu kelompok elit harus muncul untuk melanjutkan dan mengemban tugas-tugas negara. Kelompok elit dalam pandangan aristoteles memiliki ‘ketetapan’ pada susunan kelembagaan golongan elit yang terampil sekaligus juga orang yang baik, bertanggung jawab secara sosial dan material.

Saint Simon

Saint Simon seorang berkebangsaan Prancis memiliki perhatian terhadap kaum elit sepanjang hidupnya. Simon menyakinkan bahwa masyarakat yang baik itu didasarkan kepada kemampuan alamiah manusia.

Simon membagi masyarakat menjadi tiga kelas sosial yang terpisah, yakni Pertama, Fungsi Intelegensi (melakukan pekerjaan industri yang esensial), Kedua, Fungsi Motorik ( pemenuhan kebutuhan rohaniah), dan Ketiga, Fungsi Sensorik (para tiap anggota kelas, Individu-individu secara alamaiha melebihi yang lainnya. Bagi Simon, Kelompo elit terdiri dari Ilmuwan, Pengatur Ekonomi, Tokoh Agama dan Budaya.

Suatu kelompok elit, dalam pandangan Simon, memegang posisi yang sangat strategis dalam tata sosial. Dalam konteks Industri dan ilmu pengetahuan akan mendominasi kehidupan sosial dan harus di sosialisasikan.

Selain itu, Simon menyatakan bahwa industrialisasi sangat tepat untuk melakukan regenerasi. Organisasi demikian harus disempurnakan  dan kegiatan sosial dilebur menjadi kegiatan industri.

Dengan demikian, Simon menolak model suatu eli politik tunggal yang dominan dan dengan menggantikannya dengan elit Industri. Pemikiran Simon terhadap elit berkaitan dengan fungsi sosial. fungsi tersebut bertalian dengan tata moral.

Pareto dan Mosca

Pareto dan Mosca merupakan kedua orang Itali yang banyak mengkaji dan membahas sifat peranan elit dalam masyarakat. Pareto adalah orang yang memberikan istilah ‘elit’ begitu populer sampai dengan masa kini.

Kaum elit politik dan pemerintah karena pentingnya dari segi sosial dan sejarah. Bagi mereka elit politik merupakan unsur-unsur yang tetap dalam masyarakat. Prinsip utama Pareto dan Mosca bukanlah mengikuti gaya Marxist namun konflik antara dua minoritas, yakni mereka yang mempertahankan jabatan politik dan mereka yang berusaha memperebutkannya.

Bagi Pareto dan Mosca sama pentingnya untuk strategi yang benar untuk mempertahankan kekuasaan dan kekuatan-kekuatan tradisional.Mosca menyadari bahwa masyarakat-masyarakat yang padat jumlah penduduknya telah mencapai suatu tingkat peradaban tertentu terhadap kelas-kelas penguasa tidak membenarkan kekuasaan secara ekslusif yang dimiliki secara de facto.Oleh karena itu Pareto berpendapat piramida untuk bakat-bakat yang berlainan menghendaki tipe-tipe manusia yang berbeda.

Kelemahan dan kegagalan bagi Pareto dan Moska adalah kegagalan dalam membedakan antara anggota-anggota suatu elit yang kaya dan orang kaya yang mungkin juga merupakan bagian dari suatu elit. Selain itu, adanya koeksistensi kelas atau yang mengatur bisnis suatu elit politik dalam memimpin negara. Dengan demikian, golongan pertama adalah orang yang memperoleh kekayaan melalui kegiatan usaha, golongan kedua, orang-orang yang terpilih untuk jabatan, dan golongan ketiga, aristokrat-aristokrat dengan rekreasi dan selera seni.

Pandangan Pareto dan Moska memiliki kemiripan dengan Aristoles dalam penghisapan atas yang dikuasai oleh para penguasa yang tidak dapat dihindarkan. Mereka mencotohkan seperti, perputaran roda. Selanjutnya, Pareto dan Moska mengangkat persoalan-persoalan fundamental terhadap struktur sosial dan kontrol sosial.

Inti dari pemikiran Pareo dan Moska terhadap Kaum elit adalah bahwa suatu kelas penguasa atau elit adalah suatu wajah yang kompleks yang tidak dapat ditiadakan dan ia selalu hadir dalam kehidupan manusia.

Karl Manheim

Karl Manheim dikenal sebagai sebagai Sosiologi Ilmu Pengetahuan. Beberapa sumbanganya termasuk pada studi para elit. Dalam karyanya ‘Man and Society in an Age of Reconstruction’ (1946), Manheim mencatat bahwa terlah terjadi penambahan para elit pada masa Industri.

Manheim membagi dua tipe elit, yakni pertama, elit yang berbeda secara fundamental (pemimpin politik dab organisasi), kedua, elit sublimatif (Pemimpin moral – keagamaan, seni dan Inteletual). Fungsi dari elit pertama adalah mengintegrasikan sejumlah besar kepentingan perseorangan, sedangkan fungsi dari tipe kedua adalah mengadakan tenaga kejiawaan manusia, seperti perjuangan kehidupan manusia tidak pada sebatas perjuangan hidup materil,namun kedalam perenungan dan pemikiran.

Bagi Manheim, elit memiliki fungsi-fungsi untuk melakukan tindakan kolektivitas dan ini juga merupakan sifat dari fungsi dan bukan motif dari para individu yang haus kekuasaan. Singkatnya, manheim melihat para elit sebagai suatu sistem hubungan dan keperluan kolektif.

Kegagalan Manheim dalam menjelaskan pandangan elit adalah ketika ia tidak berhasil membedakan elit dan kelas penguasa. Hal ini dikarenakan ia tidak pernah membedakan secara konteks. Misalnya, Manheim menulis tentang kelas penguasa di Amerika dan Uni Sovyet. Ia tidak secara gamblang menjelaskan kepada elit mana yang ia tujukan.

Selanjutnya, Manheim membedakan antara kekuasaan perseorangan dan kekuasaan kelembagaan. Bagi manheim, kekuasaan perseorangan dijalankan oleh individu yang lebih kuat yang berorientasi kepada keuntungan dirinya sendiri. Kekuasaan kelembagaan dijelaskan sebagai kekuasaan individu yang dijalankan atas nama kolektifitas melalui saluran-saluran sosial yang dikhsususkan dan sah (legal-formal). Dengan demikian pandangan Manheim terhadap para elit sebagai menjalankan kekuasaan fungsional dan melembaga.

Dalam perkembangannya, Studi elit yang dilakukan Manheim mendapatkan respon bagi Lasswell. Lasswel adalah teman sejawat sekaligus salah seorang yang melakukan studi empiris secara komprehensif mengenai elit politik dalam skala besar (dunia).

Raymond Aron

Raymond Aron seorang Sosiolog sekaligus wartawan yang berkebangsaan Prancis. Aron menaruh minat terhadap teori sosial dan politik kontemporer. Salah satu karyanya yang berkaitan dengan studi elit, yakni ‘Social Structure and the Rulling class’ yang diterbitkan pada tahun 1950. Dalam bukunya, Aron menganalisa perkembangan Prancis dengan dua pendekatan kekuasaan, yaitu pendekatan Marxis : Masyarakt Kelas dan Masyarakat tanpa Kelas, dan Pareto mengenai elit dan penguasaan minoritas yang tidak dapat ditiadakan.

Bagi Aron, Kontribusi nyata untuk analisa para elit adalah sesuatu yang melemahkan kalau bukan akan mencegah penyamaan hierarki politik dan ekonomi dalam masyarakat Industri. Selian itu Aron menekankan kepada peranan yang dapat hidup berdampingan dan menyatunya elit politik suatu bangsa. Aron sendiri mendefinsikan kaum elit sebagai orientasi politis terhadap pertentangan di antara sub kelompok  didalam lingkungan elit yang masa depanya sukar untuk disatukan.

Dengan demikian Aron dalam studi elit melihat hubungan antara kekuasaan ekonomi/politik, kelas sosial dan elit politik yang terjadi secara diferensiasi.

PENUTUP

Kelompok terpilih (elite) dalam masyarakat memiliki karakteristik yang beragam dan berbeda. Jika Aristoteles, Plato, dan Mosca memberikan kategoriasi kelompok terpilih berkenaan dengan politik atau ‘elit politik’. Sedangkan Saint Simon, Karl Manheim, dan Raymod Aron, memberikan ciri kaum terpilih sebagai golongan yang berkaitan dengan ‘kekuasaan, tanggung jawab, dan hak-hak’. Dengan demikian, kelompok terpilih (elit) selalu mendapatkan perhatian dan perkembangan di dalam kelas-kelas masyarakat berdasarkan kategori sosial yang dibentuk.

*****